This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 14 September 2018

kerajaan mataram islam

Kerajaan Mataram Islam – Sejarah Kerajaan Mataram Islam dilatar belakangi oleh Kerajaan Demak. Sepeninggal Sultan Trenggono, Kerajaan Demak mengalami perang saudara antara Pangeran Sekar Sedo Lepen (adik Trenggono) dengan Pangeran Prawoto (anak Trengono) yang kemudian dimenangkan oleh Prawoto.
Putra Pangeran Sedo Lepen, Arya Penangsang tidak bisa menerima begitu saja kematian ayahnya. Arya Penangsang lalu membunuh Pangeran Prawoto beserta keluarganya. Pangeran Prawoto memiliki seorang putra bernama Arya Pangiri. Dibantu oleh Joko Toingkir,yang merupakan adik ipar Trenggono, Arya Pingiri lalu membalas kematian ayahnya.
Setelah itu Joko Tingkir naik tahta kemudian pada tahun 1552 pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang. Joko Tingkir adalah raja pertama Kerajaan Pajang yang bergelar Sultan Adiwijaya. Pengangkatan Joko Tingkir menjadi raja Pajang disahkan oleh Sunan Giri yang kemudian diakui oleh semua adipati di daerah Jawa. Ketika itu Demak hanyalah sebuah daerah kecil yang dikuasai oleh Arya pangiri.
Salah satu di antara pendukung Adiwijaya yang dianggap paling berjasa adalah Kyai Gede Pemanahan. Karena hal tersebut, Kyai Gede Pemanahan diberikan hadiah berupa tanah pemukiman di daerah Mataram (Kota Gede, Yogyakarta). Kyai Gede Pemanahan disebut sebagai perintis berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Beliau kemudian wafat pada tahun 1575, kekuasaannya kemudian dilanjutkan oileh bernama Sutawijaya.
Joko Tingkir meninggal dunia pada tahun 1582 dan pemerintahan diteruskan oleh putranya Pangeran Benowo. Tetapi tidak lama setelah itu Pangeran Benowo dikudeta Arya Pangiri (putra Prawoto dari Demak). Kerajaan Pajang setelah itu dibawa kekuasaan Arya Pangiri, namun ia tidak disenangi rakyat sehingga menimbulkan banyak perlawanan, salah satunya adalah dipimpin oleh Pangeran Bewono yang dibantu Sutawijaya.
Perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Bewono ini berhasil berkat bantuan Sutawijaya, kemudian Sutawijaya diangkat menjadi raja, ia lalu memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram. Sutawijaya menjadi raja pertama Kerajaan Mataram Islam.

Silsilah Kerajaan Mataram Islam

Sultan Agung
Sultan Agung ©oleholehmaktratap.blogspot.co.id
Raja pertama Kerajaan Mataram Islam adalah Sutawijaya (1586 – 1601) sebagai anak pemanahan dan anak angkat Sultan Hadiwijaya. Sebagai sultan di Mataram, ia bergelar Penembahan Senopati Ing Alaga Sayidim Panatagama. Pusat Kerajaan Islam awalnya ada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta saat ini.
Pada masa pemerintahan Penembangan Senopati, Kerajaan Mataram Islam berhasil menundukkan para bupati yang membangkang dan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Bupati Ponorogo, Kediri, Madium, Surabaya, Pasuruan, serta Demak berhasil ditaklukkan pada tahun 1595.
Penembangan Senopati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede.
Setelah Penembangan Senopati mangkat, putranya yang bernama mas Jolang naik tahta yang bergelar Sultan Anyakrawati (1601 – 1631). Mas Jolang dengan susah payah harus menghadapi pemberontakan para bupati. Tetapi sebelum dapat membasmi pemberontakan ia meninggal dunia tahun 1613. Karena meninggalnya di Krapyak, maka Mas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Penembangan Seda Kerapyak.
Mas Rangsang yang merupakan putra Penembangan Seda Krapyak menggantikan bapaknya dan lebih terkenal dengan nama Sultan Agung (1613 – 1645). pusat pemerintahan Sultan Agung awalnya berada di Kerta, lalu pindah ke Plered.
Setelah tampil sebagai Raja Mataram Islam, Sultan Agung harus menghadapi musuh lama Mataram, yakni Surabaya. Surabaya sulit dikalahkan Mataram karena dibantu oleh Kediri, Pasuruan, dan Tuban.
Pada tahun 1615, pasukan gabungan dari Surabaya dapat dipukul mundur dan dikalahkan di daerah Wirasaba (Majakerta). Setelah Wirasaba dikuasai, disusul Lasem, Pasuruan (1617), dan Tuban (1620). Pada tahun 1622, Sultan Agung menundukkan Sukadana yang menjadi sekutu Surabaya dan pada tahun 1624, serangan Kerajaan Mataram Islam mampu menundukkan Madura. Sultan Agung kemudian meninggal tahun 1645 dan dimakamkan di Bukit Imogiri.
Raja selanjutnya adalah putra Sultan Agung yang bergelar Amangkurat I. Sayangnya, Amangkurat I kurang disenangi rakyat dan para ulama, dikarenakan raja ini kurang mencerminkan sifat dan sikap yang baik. Karena hal tersebut, maka bupati pesisir mulai melepaskan diri dan mendorong Amangkurat I untuk bersekutu dengan VOC.

Kehidupan Politik

Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Islam
©gurusejarah.com
Persekutuan dengan VOC pada akhirnya mendorong berbagai reaksi dan perlawanan terhadap Amangkurat I. VOC berusaha mengadu domba dengan memberikan bantuan kekuatan kepada Amangkurat I.
Pada masa pemerintahan Amangkurat I terjadi pemberontakan Trunojoyo dari Madura. Pemberontakan ini mendapat bantuan dari orang-orang Makassar/Bugis. Trunojoyo berhasil menguasai keraton dan menyebabkan Amangkurat I melarikan diri meminta bantuan VOC.
Namun sebelum mencapai persetujuannya, Amangkurat I meninggal di Tegalwangi. Sunan Amangkurat I merupakansatu-satunya Raja Kerajaan Mataram Islam yang dimakamkan jauh dari wilayah kekuasaannya.
Amangkurat II (1677 – 1703) merupakan putra dari Amangkurat I. Pada masa pemerintahannya, terjadi persetujuan dengan VOC, yakni VOC bersedia membantu raja untuk melawan musuh-musuh Kerajaan Mataram Islam dengan syarat raja harus mengganti rugi biaya perang dan memberikan konsesi ekonomi bagi VOC.
Atas dasar persetujuan tersebut, Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk merebut kembali daerah-daerah yang sebelumnya telah melepaskan diri. Kesempatan ini digunakan VOC guna mengambil alih daerah timur Karawang sampai Sungai Pamanukan. Pada masa itu juga terjadi pemindahan kedhaton dari Pleret ke Kertasura.
Campur tangan VOC menyebabkan situasi semakin kacau. Saudara Amangkurat I, yaitu P. puger di Pleret juga melakukan perlawanan karena tidak mengakui kedudukan Amangkurat II di Kartasura. Dengan bantuan Belanda, akhirnya P. Puger berhasil dilumpuhkan dan tinggal di Kartasura. Pada sisi lain, terdapat pemberontakan yang dipimpin oleh Untung Surapati yang menyebabkan terbunuhnya Kapten Tack.
Keadaan Kerajaan Mataram Islam yang semakin tidak menentu dan mencapai puncaknya pada perjanjian Giyanti. Pada perjanjian tersebut mengakibatkan wilayah Mataram harus dibagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Perjanjian Giyanti sendiri merupakan bentuk politik adu domba VOC dengan memanfaatkan perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dengan Pakubuwono III. Setelah itu, VOC terus saja memecah belah kekuasaan Mataram melalui Perjanjian Salatiga (1757) yang membagi Kesunanan Surakarta dengan Puro Mangkunegara.
Pada tahun 1813, Kesultanan Yogyakarta dibagi juga dengan Puro Paku Alam. jadi, hingga tahun 1813, daerah Mataram terbagi menjadi empat wilayah kekuasaan, yaitu:
  1. Kesunanan Surakarta
  2. Kesultanan Yogyakarta
  3. Puro Mangkunegara, dan
  4. Puro Paku Alaman.

Lokasi Kerajaan Mataram Islam

Lokasi Kerajaan Mataram Islam
©wikipedia.org
Gunung Merapi adalah salah satu pusat kesuburan Kerajaan Mataram Islam. Di sekitar lokasi tersebut juga terdapat gunung berapi penting, yakni Merbabu (yang saat ini sudah tidak aktif), Sindoro, Sumbing, yang semuanya mendukung perkembangan ekonomi Kerajaan Mataram yang berbasis agraris.
Dampak dari kondisi alam tersebut adalah berkembangnya ekonomi pertanian yang maju, dimana daerah-daerah persawahan yang luas di Kerajaan Mataram dengan hasil utama beras. Keomuditas yang lain adlah kayu, gula, kelapa, kapas dan hasil palawija.
Sebagai negara agraris, kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Islam sangat menonjol. Mataram mengembangkan daerah-daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah. Dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor. Bahkan Kerajaan Mataram menjadi mengekspor beras paling beras ketika itu.

Perkembangan Kerajaan Mataram Islam 

Perkembangan Kerajaan Mataram Islam 
©duutchman.blogspot.co.id
Pada abad ke-17, Jepara menjadi bandar terpenting dalam bidang aktivitas ekspor beras. Selain itu juga, ada bandar-bandar lain, seperti Tegal, Tuban, Pekalongan, dan Gresik. Sementara untuk mengangkut barang-barang dagangan dari pedalaman ke pelabuhan, digunakan gerobak yang ditarik kerbau. Jika jaraknya dekat biasa digunakan pikulan, digendong atau melalui saluran air.
Sebelum abad ke-16 Masehi, ekonomi Kerajaan Mataram Islam masih didominasi ekonomi pertanian. Jarang ditemukan berita perdagangan Mataram dengan negara-negara tetangga. Baru pada abad ke-16, setelah daerah pesisir dikuasai Mataram, kegiatan perdagangan Kerajaan Mataram semakin tampak.
Wilayah pesisir utara tersebut kemudian dibagi menjadi dua, yakni tlatah pesisiran kulon (bagian barat) dan tlatah  pesisiran wetab (bagian timur). Pada masa pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I, Kota Jepara menjadi pusat pesisiran wetan yang mempunyai pejabat wedana bupati.

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Mataram Islam
©bukalapak.com
Untuk memperkokoh kedudukan ekonominya, Kerajaan Mataram Islam sangat berambisi menguasai daerah pesisir utara Pulau Jawa sebagai penopang ekonomi dan politik Jawa. Hal itu dibuktikan dengan serangan ke Gresik pada tahun 1623 dan Surabaya pada tahun 1625. Praktis Mataram merupakan kerajaan utama di Jawa pada masa itu.
Selain sebagai pintu ekspor impor, pelabuhan juga merupakan salah satu penghasil devisa karena menjadi tempat transaksi perdagangan dengan pedagang dari Indonesia Timur. Dari kegiatan itulah Kerajaan Mataram Islam mendapatkan cukai. Pada masa VOC, Belanda pernah mendapat pembebasan cukai oleh Sultan Agung pada tahun 1614 (sebelum Mataram menyerang VOC).
Bagaimana dengan ekonomi pelayaran Kerajaan Mataram? Nelayan merupakan pekerjaan sebagian kecil rakyat Mataram, terutama masyarakat di daerah Laut Jawa. Samudra Indonesia atau Laut Selatan di pesisir selatan Kerajaan Mataram Islam kurang mendukung untuk berkembangnya pelayaran dan perdagangan pada masa tersebut. Hal ini disebabkan kondisi alam Samudra Indonesia yang tidak mudah dilayari karena ombaknya yang sangat besar.
Namun demikian bukan berarti pelayaran tidak berkembang di daerah pesisir selatan Mataram. Hingga saat ini, masih dapat dijumpai perahu-perahu tradisional yang terdapat di beberapa pantai selatan Yogyakarta, seperti Samas dan Sadeng. Berbeda dengan perkembangan pelabuhan di wilayah utara Pulau Jawa, wilayah selatan Mataram memang tidak berkembang menjadi pelabuhan penting.

Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Mataram Islam
©seruni.id
Salah satu ciri masyarakat agraris adalah pentingnya nilai tanah bagi kehidupan mereka. Demikian halnya dengan Kerajaan Mataram. Sebagian masyarakat sangat tergantung pada kondisi alam tanah dan luas kepemilikan tanah. Begitu pentingnya arti penguasaan tanah, maka simbol kekuasaan kerajaan pun salah satunya adalah tanah.
Hal inilah yang mencirikan bahwa Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan yang bersifat feodal. Sifat feodal tersebut juga tampak pada gelar sultan sebagai panatagama, yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rakyat sangat hormat dan patuh, serta siap hidup mati mengabdi kepada sultan.
Di Mataram dikenal beberapa kelompok masyarakat. Dibedakan menjadi golongan raja beserta keturunannya, golongan bangsawan serta rakyat sebagai kawula kerajaan. Secara hukum dan ketentuan tradisional saat itu, yang menjadi tanah kerajaan dan segala isinya adalah raja. Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat keluarga istana dan pegawai. Mereka digaji dengan tanah lungguh, yakni tanah yang hasil buminya bisa diambil oleh yang diberikan kuasa.
Raja dan para pejabat dan pemegang tanah lungguh tidak mengerjakan tanah. Pengolahan tanah diserahkan kepada bekel atau kepala desa. Sedangkan yang mengerjakan tanah adalah rakyat atau para petani penggarap. Selain ketentuan di atas, rakyat juga berkewajiban membayar pajak.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam
©gulalives.com
Kebudayaan Mataram mengalami kemajuan yang pesat. Seni lukis, ukir, patung dan seni hias mengalami perkembangan. Salah satu hasil dari hal tersebut adalah gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayar (Klaten) yang diperkirakan dibuat pada zaman Sultan Agung.
Pada bidang seni budaya, Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Karya-karya Sultan Agung yang terkenal misalnya kalender Jawa yang berdasarkan pada perputaran bulan, buku Sastragending yang merupakan karya filsafat, serta kitab undang-undang yang disebut Surya Alam.
Kerajaan Mataram Islam juga mengembangkan perayaan sekaten untuk mempenringati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Puncak acara sekaten adalah mengarak gunungan dari keraton ke depan Masjid Agung. Gunungan ada beberapa macam, antara lain; gunungan alanang, gunungan wadon, gunungan dharat, gunungan gepak, dan gunungan pawuhan.
Dinamai gunungan karena gunungan ini biasanya dibuat dari berbagai makanan, kue, dan hasil bumi yang bentuknya lancip menyerupai gunung. Upacara grebeg merupakan sedekah sebagai rasa syukur dari raja kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara ini juga menjadi sarana dakwah dan untuk melihat kesetiaan para bupati dan punggawa kerajaan kepada rajanya.
Dalam kepercayaan masyarakat Kerajaan Mataram Islam, Gunung Berapi dan Laut Selatan (Samudra Indonesia) memiliki arti secara filosofis. Gunung Merapi dan Laut Selatan dipercaya sebagai keseimbangan kehidupan. khususnya Kerajaan Mataram Islam. Sebagian masyarakat percaya bahwa salah satu istri sultan (Raja Mataram) adalah Nyi Roro Kidul menunjuk pada makhluk halus yang berkuasa di pantai selatan Yogyakarta.

kerajaan kutai

Kerajaan Kutai – Pengaruh Hindu-Budha masuk ke Nusantara bersamaan dengan hubungan dagang antara India dan Indonesia pada awal abad pertama Masehi. Hubungan tersebut kemudian berkembang menjadi sarana penyebaran agama Hindu-Budha dalam kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Berdasarkan penemuan-penemuan peninggalan salah satu kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia adalah Kerajaan Kutai, bahkan banyak kalangan yang menganggapnya sebagai kerajaan pertama di Indonesia.
Meskipun Kerajaan Kutai wilayahnya tidak terletak di jalur perdagangan internasional, namun hubungan dagang dengan India telah berkembang sejak lama. Dari hal tersebut kemudian terjadi penyebaran pengaruh agama Hindu-Budha.
Kerajaan Kutai berlokasi di wilayah Muarakaman tepatnya di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yakni di sekitar pertemuan Sungai Mahakam dengan anak sungainya. Sungai Mahakam yang bisa dilayari dari pantai sampai masuk ke Muarakaman memudahkan aktivitas perdagangan yang kemudian memperlancar ekonomi dan kemajuan Kerajaan Kutai.

Bukti Sejarah Kerajaan Kutai

Prasasti Yupa, Salah Satu Bukti Sejarah Kerajaan Kutai
©wikipedia.org
Salah satu bukti adanya pengaruh Hindu-Budha di Kutai adalah prasasti Yupa yang menerangkan Kerajaan Kutai. Yupa diidentifikasi merupakan peninggalan Hindu Budha karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Sansekerta.
Bahasa Sansekerta adalah bahasa Hindu asli. Tulisan dan bentuk hurufnya dinamakan huruf Pallawa, yakni tulisan yang dipakai di tanah Hindu Selatan kira-kira pada tahun 400 Masehi. Dengan melihat bentuk huruf pada prasasti yupa yang ditemukan, para ahli berpendapat bahwa Yupa tersebut dibuat sekitar abad ke-5. Jadi dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia.
Bukti selanjutnya berdasarkan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Mulawarman yang menyebutkan tiga penguasa daerah tersebut. Mulawarman adalah cucu Kudungga yang menurut ahli merupakan nama asli Indonesia. Hal itu terjadi karena nama Kudungga mirip dengan nama Bugis Kadungga.
Yang menarik dari prasasti ini adalah berita yang menyebutkan bahwa pendiri kerajaan (vamsakarta) adalah Aswawarman, bukan Kudungga yang dianggap sebagai raja pertama. Kudungga kemungkinan merupakan kepala suku yang setelah ia bersentuhan dengan kebudayaan Hindu Budha mengubah struktur pemerintahan menjadi kerajaan dan menurunkan kekuasaannya pada keturunannya.
Kata warman pada nama seseorang tampaknya menjadi salah satu ciri bahwa seseorang tersebut adalah penganut Hindu secara penuh. Dari jenis nama yang dipakai oleh Aswawarman tersebut, maka bisa diambil kesimpulan bahwa Aswawarman merupakan pendiri Kerajaan Kutai.

Raja-Raja yang Memerintah

Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Kutai
©dosenpendidikan.com
Penguasa Kerajaan Kutai yang pertama adalah Kudungga, kemudian digantikan oleh Aswawarman. Aswawarman digantikan oleh putranya yang bernama Mulawarman. Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja terbesar di Kerajaan Kutai dan memeluk agama Hindu Siwa yang setia.
Juga diterangkan sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum brahmana dan rakyat. hal ini dibuktikan dengan sang raja yang pernah memberikan hadiah kurban emas dan 20.000 ekor sapi/lembu untuk para Brahmana sebagai ungkapan rasa terima kasih. Sementara sebagai peringatan mengenai upacara kurban tersebut, para Brahmana membgangun sebuah Yupa.
Kerajaan Kutai terletak di tepi Sungai, mendorong masyarakatnya mengembangkan pertanian. Selain pertanian, mereka banyak melakukan kegiatan perdagangan. bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang dengan wilayah dari luar.
Jalur perdagangan internasional waktu itu dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan sampai ke China. Dalam pelayarannya dimungkinkan para pedagang itu singgah dahulu di Kerajaan Kutai untuk menjual dan membeli barang dagangan sekaligus menyiapkan perbekalan pelayaran. Dengan demikian Kerajaan Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur.
Pada masa pemerintahan  Raja Mulawarman, Kerajaan Kutai mencapai puncak kejayaan. Raja Mulawarman meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah sekitarnya. Beliau memerintah dengan bijaksana sehingga sangat dicintai oleh rakyatnya

Kehidupan Sosial

Kehidupan Sosial Kerajaan Kutai
©satujam.com
Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai ditandai dengan adanya pembagian golongan masyarakat, yaitu golongan Brahmana dan Ksatria. Golongan Brahmana menduduki status paling tinggi, menguasai bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, serta mejadi pemimpin dalam upacara ritual keagamaan.
Golongan Ksatria terdiri atas kaum bangsawan atau para kerabat kerajaan. Adapun di luar kedua golongan tersebut terdapat rakyat biasa yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang.

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kutai
©histori.id
Kehidupan ekonomi Kerajaan Kutai tidak diketahui secara pasti, kecuali telah disebutkan dalam salah satu prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan telah menghadiahkan 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.
Tidak diketahui dengan pasti dari mana emas-emas itu berasal, apakah didatangkan dari India atau ditambang dari wilayah Kerajaan Kutai. Begitu juga dengan sapi dan kuda, apakah merupakan hasil ternak rakyat atau didatangkan dari tempat lain. (Baca juga: Kerajaan Islam di Indonesia)

Kehidupan Keagamaan

Kehidupan Keagamaan Kerajaan Kutai
©jokowarino.id
Kehidupan masyarakat Kerajaan Kutai mendapat pengaruh agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan adanya hubungan erat antara Raja Mulawarman dan para Brahmana serta adanya pembangunan tempat suci bernama wapakeswara untuk menghormati dewa-dewa dalam agama Hindu.

kerajaan singasari

KERAJAAN SINGASARI – Sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara ini memang selalu menarik untuk dipelajari dan diteliti. Melalui sejarah tersebut, kita bisa belajar dari masa lalu dan dijadikan pembelajaran untuk masa depan.
Salah satu kerajaan besar yang pernah menguasai sebagian wilayah di Indonesia adalah kerajaan Singasari. Kerajaan yang dulunya berpusat di Malang ini merupakan salah satu kerajaan Hindu Budha. Tertarik untuk mengetahui seluk beluk kerajaan Singasari? Berikut ini artikel yang membahas terkait Kerajaan Singasari.

Sejarah Lengkap Kerajaan Singasari

kerajan singasari
zultravel.wordpress.com
Kerajaan Singasari adalah salah satu kerajaan Hindu Budha yang pernah berdiri di Malang. Kerajaan ini pernah mencapai puncak kejayaannya hingga tidak ada yang mampu menandinginya. Berikut ini ulasan lengkap mengenai Kerajaan Singasari :

Sumber Sejarah Kerajaan Singasari

Sebagai salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia, Kerajaan Singasari tentu memiliki beberapa sumber sejarah yang bisa digali informasinya. Berikut ini beberapa sumber sejarah dari Kerajaan Singasari :

1. Kitab Negarakartagama

Kitab Negarakartagama merupakan peninggalan kerajaan Majapahit karangan dari Mpu Prapanca. Dalam kitab ini berisi tentang raja Majapahit yang berteman dengan raja Singasari. Selain itu, terdapat pula penjelasan lengkap mengenai raja-raja yang pernah berkuasa di Singasari hingga raja Hayam Wuruk.

2. Kitab Pararaton

Sumber sejarah kerajaan Singasari yang kedua adalah Kitab Pararaton. Kitab ini berisikan dongeng dan mitos. Namun dari kitab ini, kita bisa mengetahui awal mula Ken Arok mendirikan kerajaan Singasari. Sebelumnya menjadi raja, ken Arok pernah menjadi bupati Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang dibunuhnya.
Hal ini dilakukannya karena dia menginginkan istri Tunggul Ametung yaitu Ken Dedes. Kemudian  dia melepaskan Kabupaten Tumapel dari kekuasaan kerajaan Kediri yang diperintah oleh raja Kertajaya. Pada akhirnya, Ken Arok menyerang Kerajaan Kediri, membunuh raja Kertajaya dan mendirikan kerajaan Singasari.

3. Bangunan Candi

Keberadaan kerajaan Singasari juga bisa dibuktikan melalui candi-candi yang ditemukan di sekitar Singasari Malang dan Surabaya. Candi-candi tersebut antara lain candi Singasari, candi Kidal, candi Jago, dan patung Joko Dolok.

Runtuhnya Kerajaan Singasari

kerajaan singasari
sejarahbudayanusantara.weebly.com
Ada dua sebab runtuhnya Kerajaan Singasari yaitu tekanan dari luar dan pemberontakan dalam negeri. Tekanan dari luar datang dari Dinasti Yuan di Cina dan Khubilai Khan. Khubilai Khan mengehendaki Kerajaan Singasari berada di bawah kekuasaan Cina.
Kertanagara menolak hal ini dengan menghina utusan Khubilai Khan yang bernama Meng Chi. Sejak itu, Kartanegara lebih fokus terhadap pertahanan laut. Sehingga tidak terlalu memperhatikan pertahanan di dalam kerajaan.
Pada tahun 1292,  Jayakatwang penguasa Kediri memanfaatkan hal ini untuk melakukan pemberontakan. Dia berhasil menyerbu ibukota Singasari dan membunuh Kertanegara. Mulai saat itu, runtuhlah kerajaan Singasari.

Sejarah Kerajaan Singasari

Kerajaan Majapahit
Berikut ini ulasan sejarah kerajaan Singasari dimulai dari awal berdiri, kehidupan politik, perekonomian, sosial budaya dan masa kejayaan Singasari.

A. Awal Berdirinya Kerajaan Singasari

Pendiri kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Asal-usul Ken Arok sendiri masih belum jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang petani dari gunung Kawi. Namun dia diasuh oleh Lembong seorang pencuri. Dia dididik agar menjadi penjahat.
Pada mulanya, Ken Arok menginginkan istri dari Tunggul Ametung Bupati Tumapel yang bernama Ken Dedes. Karena ambisinya itu, dia membunuh Tunggul Ametung. Setelah Tunggul Ametung meninggal, dia memperistri Ken Dedes dan diangkat menjadi Bupati Tumapel.
Pada waktu itu, Tumapel berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Kertajaya. Namun kemudian dia melepaskan Kabupaten Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kediri. Tidak sampai disitu saja, dia menyusun strategi untuk menyerang Kerajaan Kediri.
Pada Tahun 1222 para pendeta dari Kerajaan Kediri meminta perlindungan dari perbuatan sewenang-wenang Kertajaya kepada Ken Arok. Ken Arok memanfaatkan kesempatan ini, menyusun barisan, melatih prajurit dan membuat rakyat memberontak Kerajaan Kediri.
Setelah semua siap, berangkatlah prajurit Tumapel untuk menyerang Kerajaan Kediri. Akhirnya, perang dasyatpun pecah di Daerah Ganter. Raja Kertajaya beserta prajurit-prajuritnya binasa. Kemudian Ken Arok diangkat menjadi raja dan menyatukan Tumapel dengan bekas Kerajaan Kediri yang kemudian disebut Kerajaan Singasari.

B. Kehidupan Politik

Sejarah Kehidupan Politik Kerajaan Singasari dapat dilihat dari kisah perebutan kekuasaan dari raja sebelumnya dengan raja setelahnya. Berikut ini penjelasannya:
1) Ken Arok
Ken Arok menjadi raja Singasari pertama dengan masa pemerintahan tahun 1222 sampai 1227.  Dialah yang mendirikan Kerajaan Singasari. Selain itu, dia memiliki gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Dari sini munculah dinasti baru yakni Dinasti Rajasa atau Girinda. Ken Arok dibunuh oleh suruhan anak tirinya bernama Anusapati pada tahun 1227 dan dimakamkan di Kagenengan.
2) Anusapati
Setelah ken Arok meninggal, takhta kerajaan jatuh ke tangan anak tirinya Anusapati. Pemerintahannya cukup lama yaitu tahun 1227 sampai 1248. Namun dia tidak banyak melakukan pembaharuan karena terlalu berfokus pada kegemarannya menyambung ayam. Penyebab kematian Ken Arok akhirnya diketahui oleh putra Ken Arok dengan Ken Umang yaitu Tohjaya.
Tohjaya kemudian mengundang Anusapati ke tempat kediamannya bermama Gedong Jiwa untuk mengadakan pesta sambung ayam. Ketika Anusapati asyik menyaksikan aduan ayam, Tohjaya langsung menusuk Anusapati dengan keris buatan Empu Gandring. Akhirnya Anusapati meninggal dan dimakamkan di Candi Kidal.
3) Tohjaya
Raja Singasari yang ke tiga yaitu Tohjaya. Tohjaya tidak lama dalam memerintah Kerajaan Singasari. Ranggawuni anak dari Anusapati membalas kematian ayahnya. Ranggawuni dibantu Mahesa Cempaka dan para pengikutnya meminta hak takhta kerajaan.
Kemudian Tohjaya memerintah pasukan untuk menangkap Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Namun rencana itu telah diketahui keduanya dan mereka berhasil melarikan diri. Pada akhirnya mereka berhasil menggulingkan tahkta Tohjaya dan menduduki singgasana.
4) Ranggawuni
Raja Ranggawuni memerintah Kerajaan Singasari pada tahun 1248 sampai tahun 1268. Dia memiliki gelar Sri Jaya Wisnuwardana. Ranggawuni memerintah bersama Mahesa Cempaka sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Pada tahun 1254, Ranggawuni mengangkat putranya Kartanegara menjadi raja muda.
Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan Kartanegara menjadi raja besar selanjutnya di Singasari. Pada tahun 1268, Ranggawuni meninggal dunia dan dimakamkan di Candi Jago sebagai Budha dan di Candi Waleri sebagai Siwa.
5) Kartanegara
Setelah ayahnya Ranggawuni meninggal, takhta kerajaan jatuh ke tangan Kartanegara. Dia adalah raja terakhir dan terbesar selama masa kerajaan Singasari. Pemerintahan pada masa raja Kartanegara ini sangat baik, banyak yang diperbaiki dan disempurnakan.
Hingga Raja Kartanegara berani melangkah keluar wilayah Jawa Timur untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menyatukan Nusanatara. Dia memerintah kerajaan Singasari pada tahun 1268 hingga 1292.

C. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Singasari

Pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar lembah sungai Brantas. Dari situ, maka sektor pertanianlah yang dijadikan masyarakat Singasari untuk menggantungkan kehidupannya. Hasil bumi yang melimpah membuat Raja Kartanegara mampu memperluas wilayah strategis untuk perdagangan.
Selain itu, perdagangan juga menjadi sektor perekonomian masyarakat Singasari. Melalui sungai Brantas ini, maka memudahkan lalu lintas perdagangan antar wilayah pedalaman dengan wilayah luar.

D. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Singasari

Kehidupan masyarakat Singasari mengalami pasang surut dari pemerintahan Ken Arok hingga Wisnuwardana. Pada masa Ken Arok, kemakmuran masyarakat terjamin. Hal ini terbukti dengan adanya para pendeta yang meminta perlindungan kepada Ken Arok dari perilaku Raja Kertajaya.
Pada masa pemerintahan Anusapati, kehidupan masyarakat Singasari terabaikan. Raja Anusapati lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyambung ayam bukan mengurusi rakyatnya dan membangun kerajaannya.
Setelah Wisnuwardana diangkat menjadi raja, kehidupan masyarakat mulai membaik kembali. Kemakmuran masyarakat semakin meningkat setelah Kertanegara naik takhta.
Masyarakat bisa hidup aman, tenteram dan sejahtera. Berkat usaha dari Raja Kertanegara, Singasari dapat memperluas wilayah kekuasaannya hingga Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

E. Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

Raja Kartanegara mampu membawa Singasari mencapai puncak kejayaan. Pada masa pemerintahannya, Raja Kartanegara mengutus tiga maha menteri yaitu mahamenteri I hino, mahamenteri I halu dan mahamenteri I sirikan. Raja menempatkan pejabat sesuai bidang kemampuannya.
Dia juga tidak ragu untuk mengganti pejabat yang tidak berkualitas. Raja Kartanegara juga menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan besar. Berkat pemerintahannya, Singasari menjadi salah satu kerajaan terkuat dalam bidang militer dan perdagangan.

Letak Kerajaan Singasari

kerajaan singasari
hamzahzein.deviantart.com
Ken Arok mendirikan kerajaan Singasari pada tahun 1222 yang diperkirakan berlokasi di  Singasari Malang. Tepatnya di kawasan yang bernama Kutaraja dan beribukota di Tumapel.

Silsilah Kerajaan Singasari

kerajaan singasari
sejarah-negara.com
Ken Arok mendirikan keluarga kerajaan bernama Wangsa Rajasa yang menjadi penguasa Singasari. Jika dilihat dari dua sumber yaitu kitab Pararaton dan kitab Negarakertagama, terdapat perbedaan silsilah. Silsilah yang disebutkan dalam kitab Pararaton, kesuksesan raja-raja Singasari diperoleh melalui pertumpahan darah dan balas dendam.
Sedangkan dalam kitab Negarakertagama tidak menyebutkan adanya pertumpahan darah antara raja pengganti dengan raja sebelumnya. Karena kitab ini merupakan kitab pujian untuk Hayam Wuruk sehingga menutupi aib leluhurnya. Berikut ini silsilah kerajaan Singasari dari generasi ke generasi berikutnya:

a. Generasi Pertama

Pada generasi pertama ini terjadi pembunuhan Ken Arok terhadap Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes (mantan istri Tunggu Ametung). Dari pernikahannya dengan Ken Dedes, Ken Arok mempunyai empat orang anak yaitu Mahisa Wongga Teleng, Panji Saprang, Agnibaya dan Dewi Rimba.
Ken Arok memiliki anak tiri dari pernikahan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung bernama Anusapati (Raja ke dua Singasari). Kemudian ken Arok menikah lagi dengan Ken Umang dan memiliki 4 keturunan yaitu Panji Tohjaya (Raja ke tiga Singasari), Sudhatu, wregda dan Dewi Rambi.

b. Generasi Kedua

Generasi kedua diwarnai dengan bergabungnya Anusapati yaitu anak tiri Ken Arok dengan Mahisa Wongga Teleng anak kandung ken Arok dengan Ken Dedes. Mereka bekerjasama memimpin Singasari. Anusapati memiliki anak bernama Ranggawuni yang kelak membunuh Tohjaya dan menjadi Raja ke 4 Singasari.
Sedangkan Mahisa Wongga Teleng mempunyai dua anak bernama Mahisa Cempaka dan Waning Hyung yang kelak menjadi permaisuri ke 4 Singasari.

c. Generasi Ketiga

Generasi ketiga ini terjadi persatuan darah Ken Arok dengan darah Tunggul Ametung dalam diri Raja terbesar Singasari yaitu Kartanegara. Kartanegara merupakan anak pertama dari hasil pernikahan Ranggawuni dengan Waning Hyung.
Dari generasi ini pula cikal bakal Raja Majapahit. Sedangkan mahisa Cempaka memiliki keturunan bernama Dyah lembu Tal yang bekerja sama dengan Kertanagara membangun Singasari.

d. Generasi Keempat

Dyah lembu Tal menikah dengan putra mahkota kerajaan Padjajaran yaitu Rakeyan Jayadarma. Dari pernikahan mereka, kelak lahirlah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit yang bernama Sangrama Wijaya.

Peninggalan Kerajaan Singasari

kerajaan singasari
slideplayer.info
Ada beberapa peninggalan Kerajaan  Singasari, antara lain:

a. Candi Singasari

Candi ini terletak di Kecamatan Singasari Kabupaten Malang. Tepatnya di di lembah antara pengunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Menurut Kitab negarakertagama dan Prasasti Gajah Mada, candi ini dulunya digunakan sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara.

b. Candi Jago

Candi jago berbentuk sperti teras punden berundak. Bagian atasnya tersisa sebagian karena tersambar petir. Terdapat relief Kunjarakarna dan Pancatantra di candi ini. Bahan candi ini keseluruhan berasal dari batu andesit.

c. Candi Sumberawan

Candi Sumberawan terletak 6 km dari Candi Singasari. Berada di dekat telaga yang sangat bening airnya sehingga diberi nama Candi rawan. Dulunya, candi ini digunakan oleh umat Budha dan berbentuk stupa.

d. Arca Dwarapala

Archa Dwarapala memiliki  bentuk menyerupai monster dan memiliki ukuran sangat besar. Dulunya, peninggalan kerajaan Singasari ini merupakan pertanda masuk wilayah Kotaraja.. Hingga saat ini sayangnya belum ditemukan dimana letak Kotaraja Singasari.

e. Prasasti Manjusri

Peninggalan Singasari yang satu ini dulunya ditempatkan di Candi Jago. Namun sekarang sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta. Berbentuk manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Archa Manjusri dan bertuliskan tahun 1343.

f. Prasasti Mula Malurung

Pada tahun 1975 ditemukan sepuluh lempeng prasasti Mula Malurung di dekat Kota Kediri. Kemudian pada Mei 2001 ditemukan kembali tiga lempeng di penjualan barang loak. Saat ini, semua lempeng disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Prasasti ini adalah pigam pengesahan penganugrahan dua Desa yaitu Desa Mula dan Desa Malurung. Tokoh dari dua desa ini yaitu Pranaraja. Diterbitkan oleh Raja Muda Kartanegara pada tahun 1255 atas perintah ayahnya Wisnuwardana.

g. Prasasti Singasari

Prasasti ini bertuliskan aksara Jawa dan bertarikh tahun 1351. Ditemukan di Singasari Malang dan sekarang disimpan di Museum Gajah. Prasasti ini dulunya dibuat untuk mengenang pembangunan candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Gajah Mada.

h. Candi Jawi

Berlokasi di pertengahan jalan raya Kecamatan Pandaan, Prigen dan Pringebukan, candi ini dulunya merupakan tempat penyimpanan abu Raja Kartanegara. Sebagian abu juga disimpan di Candi Singasari.

i. Prasasti Wurare

Prasasti Wurare digunakan sebagai bentuk penghormatan dan perlambang Raja Kertanagara yang dianggap telah mencapai derajat Jina atau Buddha Agung.  Tulisan prasastinya melingkar pada bagian bawahnya dan berbahasa Sansekerta. Bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, prasasti ini isinya memperingati penobatan arca Mahaksbya di tempat yang bernama Wurare.

j. Candi Kidal

Candi ini merupakan salah satu candi peninggalan Singasari yang dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Anusapati. Raja kedua dari Singasari ini telah memerintah selama 20 tahun dan meninggal karena dibunuh oleh Tohjaya.

k. Candi Songgoriti

Nama candi ini sebenarnya Candi Supo karena dibangun oleh Mpu Supo. Candi ini merupakan tempat pertemuan Ken Arok dengan Ken Dedes. Berlokasi di sebelah utara lereng Gunung Kawi dan bagian selatan Gunung Arjuna.

kerajaan majapahit

KERAJAAN MAJAPAHIT

Letak Geografis
Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena adanya di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu.
Sejarah Terbentuknya Kerajaan Majapahit
Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Bajang Ratu gate, East Java, Indonesia. The el...
Gapura Bajang Ratu, yang diperkirakan sebagai Gerbang memasuki Kompleks Keraton Majapahit (Photo credit: Wikipedia)

Raja-raja Majapahit
Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.
The statue of Harihara, the half Shiva and hal...
Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardana), yang digambarkan sebagai Harihara, Perwujudan Dewa Wisnu dan Dewa Syiwa, ditemukan di Candi Simping (Photo credit: Wikipedia)
Raja Jayanegara (1309-1328)
Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada.
Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)
Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman.
English: Trowulan Museum, Trowulan, East Java,...
Patung Kepala yang dipercaya sebagai gambaran sosok Gajah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit(Photo credit: Wikipedia)
Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.
Hayam Wuruk
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada tidak akan diganti “untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu Tandi sebagais Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami sebagai Yuamentri. Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.
Wikramawardhana
Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg.
Wikramawardhana meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja berikutnya berturut-turut adalah Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan.
Sumber Sejarah
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
  • Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan
  • Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
  • Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit
  • Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
Lambang Kerajaan Majapahit, Surya Majapahit
Lambang Kerajaan Majapahit, Surya Majapahit
Kehidupan Politik
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 – 1381, Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai politikus-politikus yang handal. Hal ini dibuktikan oleh Raden Wiajaya, Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan kerajaan besar, tangguh dan berwibawa.
Majapahit Empire id
Wilayah Majapahit (Photo credit: Wikipedia)
Struktur pemerintahan di pusat pemerintahan Majapahit :
1. Raja
2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini
a. Mahamantri i-hino
b. Mahamantri i –hulu
c. Mahamantri i-sirikan
4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiran
a. Rakryan Mahapatih (Panglima/Hamangkubhumi)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
5. Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, masing-masing dharmadyaka dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Upapat. Pada masa hayam Wuruk ada 7 Upapati.
Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan dibawah raja ada sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang masing-masing memerintah suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil maupun militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa sistem pemerintahan dan kehidupan politik kerjaan Majapahit sudah sangat teratur.
Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan yang menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting.
Sebagai kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang sangat subur. Dengan daerah subur itu maka kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai Kerajaan Perantara – Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya. Keadaan masyarakat yang teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu. bukti-bukti perkembangan kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan berikut ini :
  • Candi : Antara lain candi Penataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan candi Tikus (Trowulan).
  • Sastra : Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi:
Sastra Zaman Majapahit Awal
  • Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
  • Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
  • Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
  • Kitab Kunjarakarna
  • Kitab Parhayajna
Sastra Zaman Majapahit Akhir
  • Hasil sastra zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah, diantaranya ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara lain :
  • Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
  • Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
  • Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
  • Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
  • Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
  • Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
  • Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.
Selain kitab-kitab tersebut masih ada lagi kitab sastra yang penting pada zaman Majapahit akhir seperti Kitab Paman Cangah, Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawasrama, Babhulisah, Tantri Kamandaka dan Pancatantra.
Keruntuhan Majapahit
Perkembangan kerajaan Majapahit yang mencapai puncaknya pada abad ke-14, akhirnya mulai mengalami proses kemunduran setelah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364, kemudian disusul meninggalnya Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kewibawaan kerajaan Majapahit mulai menurun, karena sistem sentralisasi yang ditetapkan oleh Gajah Mada selama memangku mahapati. Akibatnya daerah-daerah bawahan banyak yang memisahkan diri, seperti Minangkabau, Tanjungpura, dan berbagai kerajaan kecil lainnya. Muhammad Yamin dalam buku Tatanegara Majapahit melukiskan:
“Tidak berapa lamanya sesudah Prabu Hayam Wuruk meninggal, maka mulailah negara Majapahit memperlihatkan tanda-tanda kemundurannya yang berjalan terus sampai permulaan abad ke-16, inilah zaman runtuhnya negara Majapahit yang akan berakhir dengan habis musnahnya atau hilang tenggelamnya kerajaan itu sebagai susunan politik.
Situasi dan kondisi Majapahit semakin tidak menentu setelah meninggalnya kedua tokoh tersebut. Kekacauan di istana timbul sebagai akibat pertentangan di kalangan kerabat istana dalam usaha merebut tahta pemerintahan. Hal ini nampak pada masa pemerintahan Wikramawardhana dengan Bre Wirabumi, yang memuncak dengan pecahnya perang Paregreg tahun 1401.
Pertentangan dalam kerabat istana tersebut, menyebabkan lemahnya pemerintahan pusat kerajaan Majapahit, sehingga pengawasan terhadap daerah-daerah bawahan berkurang. Majapahit mengalami proses disintegrasi. Situasi-situasi inilah yang melemahkan kerajaan Majapahit yang pada akhirnya membawa kepada keruntuhannya. Menurut N.J. Krom:
“Bahwa keruntuhan didahului oleh melemahnya pusat pemerintahan dan pelemahan ini tidak disebabkan terutama sekali oleh pertentangan agama Hindu yang sedang turun dan agama Islam yang sedang naik, melainkan semata-mata oleh pertentangan dalam negeri yang berupa perang saudara dan perpecahan kekuasaan.”2)
Di samping itu sistem sentralisasi yang diterapkan oleh Gajah Mada semasa kepatihannya, tidak dapat lagi dilakukan karena tidak adanya kaderisasi. Perkembangan selanjutnya, setelah pemerintahan Wikramawardana, pertentangan dalam pemerintahan Majapahit semakin meningkat. Namun tercatat beberapa penguasa di Majapahit.
Ratu Suhita (1429-1447)
Raja Wijayaparakramawardhana (1447-1451)
Raja RAjaswawardhana (1451-1453)
Ada selang tiga tahun tidak ada raja yang memerintah, yang mungkin disebabkan oleh krisis pergantian raja ….
Masa pemerintahan dua orang raja lagi dapat diketahui, yakni:
Girisawardhana (1456-1466) dan Singhawikramawardhana (1446-1478).3)
Singhawikramawardhana dianggap sebagai raja terakhir kerajaan Majapahit. Tahun 1478 sering dijadikan sebagai patokan keruntuhan Majapahit. Para ahli sejarah masih memperdebatkan tentang keruntuhan Majapahit, sebab ada yang menyebutkan bahwa keruntuhannya sekitar tahun 1518-1521.4) Menurutnya setelah Majapahit ditaklukkan oleh Demak. Sementara itu Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun sang merah putih, memperkirakan keruntuhan Majapahit sekitar tahun 1525.5)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab runtuhnya Majapahit adalah:
a.  Tidak ada pemimpin yang cakap sepeninggal Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada
b.  Lemahnya pemerintahan pusat akibat pertentangan antara kerabat istana
c.  Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg)
d.  Ekspansi Kerajaan Demak
Advertisement

Nasionalisme

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari internal maupun eksternal.
Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang menanggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.
Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan ini pun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasananya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti naziisme, pengasingan dan sebagainya.

Beberapa bentuk dari nasionalisme

Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara, etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua elemen tersebut.
Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan politik". Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudul Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai Kontrak Sosial").
Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat").
Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis di mana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.
Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.
Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap 'Jacobin' terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bilamana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica.
Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu.
Namun, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.