Kerajaan Mataram Islam – Sejarah Kerajaan Mataram
Islam dilatar belakangi oleh Kerajaan Demak. Sepeninggal Sultan
Trenggono, Kerajaan Demak mengalami perang saudara antara Pangeran Sekar
Sedo Lepen (adik Trenggono) dengan Pangeran Prawoto (anak Trengono)
yang kemudian dimenangkan oleh Prawoto.
Putra Pangeran Sedo Lepen, Arya Penangsang tidak bisa menerima begitu
saja kematian ayahnya. Arya Penangsang lalu membunuh Pangeran Prawoto
beserta keluarganya. Pangeran Prawoto memiliki seorang putra bernama
Arya Pangiri. Dibantu oleh Joko Toingkir,yang merupakan adik ipar
Trenggono, Arya Pingiri lalu membalas kematian ayahnya.
Setelah itu Joko Tingkir naik tahta kemudian pada tahun 1552 pusat
pemerintahan dipindahkan ke Pajang. Joko Tingkir adalah raja pertama
Kerajaan Pajang yang bergelar Sultan Adiwijaya. Pengangkatan Joko
Tingkir menjadi raja Pajang disahkan oleh Sunan Giri yang kemudian
diakui oleh semua adipati di daerah Jawa. Ketika itu Demak hanyalah sebuah daerah kecil yang dikuasai oleh Arya pangiri.
Salah satu di antara pendukung Adiwijaya yang dianggap paling berjasa
adalah Kyai Gede Pemanahan. Karena hal tersebut, Kyai Gede Pemanahan
diberikan hadiah berupa tanah pemukiman di daerah Mataram (Kota Gede,
Yogyakarta). Kyai Gede Pemanahan disebut sebagai perintis berdirinya
Kerajaan Mataram Islam. Beliau kemudian wafat pada tahun 1575,
kekuasaannya kemudian dilanjutkan oileh bernama Sutawijaya.
Joko Tingkir meninggal dunia pada tahun 1582 dan pemerintahan
diteruskan oleh putranya Pangeran Benowo. Tetapi tidak lama setelah itu
Pangeran Benowo dikudeta Arya Pangiri (putra Prawoto dari Demak).
Kerajaan Pajang setelah itu dibawa kekuasaan Arya Pangiri, namun ia
tidak disenangi rakyat sehingga menimbulkan banyak perlawanan, salah
satunya adalah dipimpin oleh Pangeran Bewono yang dibantu Sutawijaya.
Perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Bewono ini berhasil berkat
bantuan Sutawijaya, kemudian Sutawijaya diangkat menjadi raja, ia lalu
memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram. Sutawijaya menjadi raja pertama Kerajaan Mataram Islam.
Pada masa pemerintahan Penembangan Senopati, Kerajaan Mataram Islam
berhasil menundukkan para bupati yang membangkang dan berusaha
melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Bupati Ponorogo, Kediri, Madium,
Surabaya, Pasuruan, serta Demak berhasil ditaklukkan pada tahun 1595.
Penembangan Senopati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede.
Setelah Penembangan Senopati mangkat, putranya yang bernama mas
Jolang naik tahta yang bergelar Sultan Anyakrawati (1601 – 1631). Mas
Jolang dengan susah payah harus menghadapi pemberontakan para bupati.
Tetapi sebelum dapat membasmi pemberontakan ia meninggal dunia tahun
1613. Karena meninggalnya di Krapyak, maka Mas Jolang lebih dikenal
dengan sebutan Penembangan Seda Kerapyak.
Mas Rangsang yang merupakan putra Penembangan Seda Krapyak
menggantikan bapaknya dan lebih terkenal dengan nama Sultan Agung (1613 –
1645). pusat pemerintahan Sultan Agung awalnya berada di Kerta, lalu
pindah ke Plered.
Setelah
tampil sebagai Raja Mataram Islam, Sultan Agung harus menghadapi musuh
lama Mataram, yakni Surabaya. Surabaya sulit dikalahkan Mataram karena
dibantu oleh Kediri, Pasuruan, dan Tuban.
Pada tahun 1615, pasukan gabungan dari Surabaya dapat dipukul mundur
dan dikalahkan di daerah Wirasaba (Majakerta). Setelah Wirasaba
dikuasai, disusul Lasem, Pasuruan (1617), dan Tuban (1620). Pada tahun
1622, Sultan Agung menundukkan Sukadana yang menjadi sekutu Surabaya dan
pada tahun 1624, serangan Kerajaan Mataram Islam mampu menundukkan
Madura. Sultan Agung kemudian meninggal tahun 1645 dan dimakamkan di
Bukit Imogiri.
Raja selanjutnya adalah putra Sultan Agung yang bergelar Amangkurat
I. Sayangnya, Amangkurat I kurang disenangi rakyat dan para ulama,
dikarenakan raja ini kurang mencerminkan sifat dan sikap yang baik.
Karena hal tersebut, maka bupati pesisir mulai melepaskan diri dan
mendorong Amangkurat I untuk bersekutu dengan VOC.
Pada masa pemerintahan Amangkurat I terjadi pemberontakan Trunojoyo
dari Madura. Pemberontakan ini mendapat bantuan dari orang-orang
Makassar/Bugis. Trunojoyo berhasil menguasai keraton dan menyebabkan
Amangkurat I melarikan diri meminta bantuan VOC.
Namun sebelum mencapai persetujuannya, Amangkurat I meninggal di
Tegalwangi. Sunan Amangkurat I merupakansatu-satunya Raja Kerajaan
Mataram Islam yang dimakamkan jauh dari wilayah kekuasaannya.
Amangkurat II (1677 – 1703) merupakan putra dari Amangkurat I. Pada
masa pemerintahannya, terjadi persetujuan dengan VOC, yakni VOC bersedia
membantu raja untuk melawan musuh-musuh Kerajaan Mataram Islam dengan
syarat raja harus mengganti rugi biaya perang dan memberikan konsesi
ekonomi bagi VOC.
Atas dasar persetujuan tersebut, Amangkurat II meminta bantuan VOC
untuk merebut kembali daerah-daerah yang sebelumnya telah melepaskan
diri. Kesempatan ini digunakan VOC guna mengambil alih daerah timur
Karawang sampai Sungai Pamanukan. Pada masa itu juga terjadi pemindahan
kedhaton dari Pleret ke Kertasura.
Campur tangan VOC menyebabkan situasi semakin kacau. Saudara
Amangkurat I, yaitu P. puger di Pleret juga melakukan perlawanan karena
tidak mengakui kedudukan Amangkurat II di Kartasura. Dengan bantuan
Belanda, akhirnya P. Puger berhasil dilumpuhkan dan tinggal di
Kartasura. Pada sisi lain, terdapat pemberontakan yang dipimpin oleh
Untung Surapati yang menyebabkan terbunuhnya Kapten Tack.
Keadaan Kerajaan Mataram Islam yang semakin tidak menentu dan
mencapai puncaknya pada perjanjian Giyanti. Pada perjanjian tersebut
mengakibatkan wilayah Mataram harus dibagi dua menjadi Kesunanan
Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Perjanjian Giyanti
sendiri merupakan bentuk politik adu domba VOC dengan memanfaatkan
perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dengan Pakubuwono III. Setelah
itu, VOC terus saja memecah belah kekuasaan Mataram melalui Perjanjian
Salatiga (1757) yang membagi Kesunanan Surakarta dengan Puro
Mangkunegara.
Pada tahun 1813, Kesultanan Yogyakarta dibagi juga dengan Puro Paku
Alam. jadi, hingga tahun 1813, daerah Mataram terbagi menjadi empat
wilayah kekuasaan, yaitu:
Kerajaan Kutai – Pengaruh Hindu-Budha masuk ke
Nusantara bersamaan dengan hubungan dagang antara India dan Indonesia
pada awal abad pertama Masehi. Hubungan tersebut kemudian berkembang
menjadi sarana penyebaran agama Hindu-Budha dalam kerajaan-kerajaan di
Nusantara.
Berdasarkan penemuan-penemuan peninggalan salah satu kerajaan yang
bercorak Hindu-Budha di Indonesia adalah Kerajaan Kutai, bahkan banyak
kalangan yang menganggapnya sebagai kerajaan pertama di Indonesia.
Meskipun Kerajaan Kutai wilayahnya tidak terletak di jalur
perdagangan internasional, namun hubungan dagang dengan India telah
berkembang sejak lama. Dari hal tersebut kemudian terjadi penyebaran
pengaruh agama Hindu-Budha.
Kerajaan Kutai berlokasi di wilayah Muarakaman tepatnya di tepi
Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yakni di sekitar pertemuan Sungai
Mahakam dengan anak sungainya. Sungai Mahakam yang bisa dilayari dari
pantai sampai masuk ke Muarakaman memudahkan aktivitas perdagangan yang
kemudian memperlancar ekonomi dan kemajuan Kerajaan Kutai.
Yang menarik dari prasasti ini adalah berita yang menyebutkan bahwa pendiri kerajaan (vamsakarta)
adalah Aswawarman, bukan Kudungga yang dianggap sebagai raja pertama.
Kudungga kemungkinan merupakan kepala suku yang setelah ia bersentuhan
dengan kebudayaan Hindu Budha mengubah struktur pemerintahan menjadi
kerajaan dan menurunkan kekuasaannya pada keturunannya.
Kata warman pada nama seseorang tampaknya menjadi salah satu
ciri bahwa seseorang tersebut adalah penganut Hindu secara penuh. Dari
jenis nama yang dipakai oleh Aswawarman tersebut, maka bisa diambil
kesimpulan bahwa Aswawarman merupakan pendiri Kerajaan Kutai.
Kerajaan Kutai terletak di tepi Sungai, mendorong masyarakatnya
mengembangkan pertanian. Selain pertanian, mereka banyak melakukan
kegiatan perdagangan. bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang
dengan wilayah dari luar.
Jalur perdagangan internasional waktu itu dari India melewati Selat
Makassar, terus ke Filipina dan sampai ke China. Dalam pelayarannya
dimungkinkan para pedagang itu singgah dahulu di Kerajaan Kutai untuk
menjual dan membeli barang dagangan sekaligus menyiapkan perbekalan
pelayaran. Dengan demikian Kerajaan Kutai semakin ramai dan rakyat hidup
makmur.
Pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, Kerajaan Kutai mencapai
puncak kejayaan. Raja Mulawarman meluaskan wilayah kekuasaannya ke
daerah sekitarnya. Beliau memerintah dengan bijaksana sehingga sangat
dicintai oleh rakyatnya
Golongan Ksatria terdiri atas kaum bangsawan atau para kerabat
kerajaan. Adapun di luar kedua golongan tersebut terdapat rakyat biasa
yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang.
KERAJAAN SINGASARI – Sejarah kerajaan-kerajaan yang
pernah berdiri di Nusantara ini memang selalu menarik untuk dipelajari
dan diteliti. Melalui sejarah tersebut, kita bisa belajar dari masa lalu
dan dijadikan pembelajaran untuk masa depan.
Salah satu kerajaan besar yang pernah menguasai sebagian wilayah di
Indonesia adalah kerajaan Singasari. Kerajaan yang dulunya berpusat di
Malang ini merupakan salah satu kerajaan Hindu Budha. Tertarik untuk
mengetahui seluk beluk kerajaan Singasari? Berikut ini artikel yang
membahas terkait Kerajaan Singasari.
Sejarah Lengkap Kerajaan Singasari
zultravel.wordpress.com
Kerajaan Singasari adalah salah satu kerajaan Hindu Budha yang pernah
berdiri di Malang. Kerajaan ini pernah mencapai puncak kejayaannya
hingga tidak ada yang mampu menandinginya. Berikut ini ulasan lengkap
mengenai Kerajaan Singasari :
Sumber Sejarah Kerajaan Singasari
Sebagai salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia,
Kerajaan Singasari tentu memiliki beberapa sumber sejarah yang bisa
digali informasinya. Berikut ini beberapa sumber sejarah dari Kerajaan
Singasari :
1. Kitab Negarakartagama
Kitab Negarakartagama merupakan peninggalan kerajaan Majapahit
karangan dari Mpu Prapanca. Dalam kitab ini berisi tentang raja
Majapahit yang berteman dengan raja Singasari. Selain itu, terdapat pula
penjelasan lengkap mengenai raja-raja yang pernah berkuasa di Singasari
hingga raja Hayam Wuruk.
2. Kitab Pararaton
Sumber sejarah kerajaan Singasari yang kedua adalah Kitab Pararaton.
Kitab ini berisikan dongeng dan mitos. Namun dari kitab ini, kita bisa
mengetahui awal mula Ken Arok mendirikan kerajaan Singasari. Sebelumnya
menjadi raja, ken Arok pernah menjadi bupati Tumapel menggantikan
Tunggul Ametung yang dibunuhnya.
Hal ini dilakukannya karena dia menginginkan istri Tunggul Ametung
yaitu Ken Dedes. Kemudian dia melepaskan Kabupaten Tumapel dari
kekuasaan kerajaan Kediri yang diperintah oleh raja Kertajaya. Pada
akhirnya, Ken Arok menyerang Kerajaan Kediri, membunuh raja Kertajaya
dan mendirikan kerajaan Singasari.
3. Bangunan Candi
Keberadaan kerajaan Singasari juga bisa dibuktikan melalui
candi-candi yang ditemukan di sekitar Singasari Malang dan Surabaya.
Candi-candi tersebut antara lain candi Singasari, candi Kidal, candi
Jago, dan patung Joko Dolok.
Runtuhnya Kerajaan Singasari
sejarahbudayanusantara.weebly.com
Ada dua sebab runtuhnya Kerajaan Singasari yaitu tekanan dari luar
dan pemberontakan dalam negeri. Tekanan dari luar datang dari Dinasti
Yuan di Cina dan Khubilai Khan. Khubilai Khan mengehendaki Kerajaan
Singasari berada di bawah kekuasaan Cina.
Kertanagara menolak hal ini dengan menghina utusan Khubilai Khan yang
bernama Meng Chi. Sejak itu, Kartanegara lebih fokus terhadap
pertahanan laut. Sehingga tidak terlalu memperhatikan pertahanan di
dalam kerajaan.
Pada tahun 1292, Jayakatwang penguasa Kediri memanfaatkan hal ini
untuk melakukan pemberontakan. Dia berhasil menyerbu ibukota Singasari
dan membunuh Kertanegara. Mulai saat itu, runtuhlah kerajaan Singasari.
Sejarah Kerajaan Singasari
Berikut ini ulasan sejarah kerajaan Singasari dimulai dari awal
berdiri, kehidupan politik, perekonomian, sosial budaya dan masa
kejayaan Singasari.
A. Awal Berdirinya Kerajaan Singasari
Pendiri kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Asal-usul Ken Arok
sendiri masih belum jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak
seorang petani dari gunung Kawi. Namun dia diasuh oleh Lembong seorang
pencuri. Dia dididik agar menjadi penjahat.
Pada mulanya, Ken Arok menginginkan istri dari Tunggul Ametung Bupati
Tumapel yang bernama Ken Dedes. Karena ambisinya itu, dia membunuh
Tunggul Ametung. Setelah Tunggul Ametung meninggal, dia memperistri Ken
Dedes dan diangkat menjadi Bupati Tumapel.
Pada waktu itu, Tumapel berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri
yang dipimpin oleh Raja Kertajaya. Namun kemudian dia melepaskan
Kabupaten Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kediri. Tidak sampai disitu
saja, dia menyusun strategi untuk menyerang Kerajaan Kediri.
Pada Tahun 1222 para pendeta dari Kerajaan Kediri meminta
perlindungan dari perbuatan sewenang-wenang Kertajaya kepada Ken Arok.
Ken Arok memanfaatkan kesempatan ini, menyusun barisan, melatih prajurit
dan membuat rakyat memberontak Kerajaan Kediri.
Setelah semua siap, berangkatlah prajurit Tumapel untuk menyerang
Kerajaan Kediri. Akhirnya, perang dasyatpun pecah di Daerah Ganter. Raja
Kertajaya beserta prajurit-prajuritnya binasa. Kemudian Ken Arok
diangkat menjadi raja dan menyatukan Tumapel dengan bekas Kerajaan
Kediri yang kemudian disebut Kerajaan Singasari.
B. Kehidupan Politik
Sejarah Kehidupan Politik Kerajaan Singasari dapat dilihat dari kisah
perebutan kekuasaan dari raja sebelumnya dengan raja setelahnya.
Berikut ini penjelasannya:
1) Ken Arok
Ken Arok menjadi raja Singasari pertama dengan masa pemerintahan
tahun 1222 sampai 1227. Dialah yang mendirikan Kerajaan Singasari.
Selain itu, dia memiliki gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Dari
sini munculah dinasti baru yakni Dinasti Rajasa atau Girinda. Ken Arok
dibunuh oleh suruhan anak tirinya bernama Anusapati pada tahun 1227 dan
dimakamkan di Kagenengan.
2)Anusapati
Setelah ken Arok meninggal, takhta kerajaan jatuh ke tangan anak
tirinya Anusapati. Pemerintahannya cukup lama yaitu tahun 1227 sampai
1248. Namun dia tidak banyak melakukan pembaharuan karena terlalu
berfokus pada kegemarannya menyambung ayam. Penyebab kematian Ken Arok
akhirnya diketahui oleh putra Ken Arok dengan Ken Umang yaitu Tohjaya.
Tohjaya kemudian mengundang Anusapati ke tempat kediamannya bermama
Gedong Jiwa untuk mengadakan pesta sambung ayam. Ketika Anusapati asyik
menyaksikan aduan ayam, Tohjaya langsung menusuk Anusapati dengan keris
buatan Empu Gandring. Akhirnya Anusapati meninggal dan dimakamkan di
Candi Kidal.
3) Tohjaya
Raja Singasari yang ke tiga yaitu Tohjaya. Tohjaya tidak lama dalam
memerintah Kerajaan Singasari. Ranggawuni anak dari Anusapati membalas
kematian ayahnya. Ranggawuni dibantu Mahesa Cempaka dan para pengikutnya
meminta hak takhta kerajaan.
Kemudian Tohjaya memerintah pasukan untuk menangkap Ranggawuni dan
Mahesa Cempaka. Namun rencana itu telah diketahui keduanya dan mereka
berhasil melarikan diri. Pada akhirnya mereka berhasil menggulingkan
tahkta Tohjaya dan menduduki singgasana.
4) Ranggawuni
Raja Ranggawuni memerintah Kerajaan Singasari pada tahun 1248 sampai
tahun 1268. Dia memiliki gelar Sri Jaya Wisnuwardana. Ranggawuni
memerintah bersama Mahesa Cempaka sebagai ratu angabhaya dengan gelar
Narasinghamurti. Pada tahun 1254, Ranggawuni mengangkat putranya
Kartanegara menjadi raja muda.
Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan Kartanegara menjadi raja besar
selanjutnya di Singasari. Pada tahun 1268, Ranggawuni meninggal dunia
dan dimakamkan di Candi Jago sebagai Budha dan di Candi Waleri sebagai
Siwa.
5) Kartanegara
Setelah ayahnya Ranggawuni meninggal, takhta kerajaan jatuh ke tangan
Kartanegara. Dia adalah raja terakhir dan terbesar selama masa kerajaan
Singasari. Pemerintahan pada masa raja Kartanegara ini sangat baik,
banyak yang diperbaiki dan disempurnakan.
Hingga Raja Kartanegara berani melangkah keluar wilayah Jawa Timur
untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menyatukan Nusanatara. Dia
memerintah kerajaan Singasari pada tahun 1268 hingga 1292.
C. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Singasari
Pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar lembah sungai Brantas.
Dari situ, maka sektor pertanianlah yang dijadikan masyarakat Singasari
untuk menggantungkan kehidupannya. Hasil bumi yang melimpah membuat Raja
Kartanegara mampu memperluas wilayah strategis untuk perdagangan.
Selain itu, perdagangan juga menjadi sektor perekonomian masyarakat
Singasari. Melalui sungai Brantas ini, maka memudahkan lalu lintas
perdagangan antar wilayah pedalaman dengan wilayah luar.
D. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Singasari
Kehidupan masyarakat Singasari mengalami pasang surut dari
pemerintahan Ken Arok hingga Wisnuwardana. Pada masa Ken Arok,
kemakmuran masyarakat terjamin. Hal ini terbukti dengan adanya para
pendeta yang meminta perlindungan kepada Ken Arok dari perilaku Raja
Kertajaya.
Pada masa pemerintahan Anusapati, kehidupan masyarakat Singasari
terabaikan. Raja Anusapati lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
menyambung ayam bukan mengurusi rakyatnya dan membangun kerajaannya.
Setelah Wisnuwardana diangkat menjadi raja, kehidupan masyarakat
mulai membaik kembali. Kemakmuran masyarakat semakin meningkat setelah
Kertanegara naik takhta.
Masyarakat bisa hidup aman, tenteram dan sejahtera. Berkat usaha dari
Raja Kertanegara, Singasari dapat memperluas wilayah kekuasaannya
hingga Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka,
kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
E. Masa Kejayaan Kerajaan Singasari
Raja Kartanegara mampu membawa Singasari mencapai puncak kejayaan.
Pada masa pemerintahannya, Raja Kartanegara mengutus tiga maha menteri
yaitu mahamenteri I hino, mahamenteri I halu dan mahamenteri I sirikan.
Raja menempatkan pejabat sesuai bidang kemampuannya.
Dia juga tidak ragu untuk mengganti pejabat yang tidak berkualitas.
Raja Kartanegara juga menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan
besar. Berkat pemerintahannya, Singasari menjadi salah satu kerajaan
terkuat dalam bidang militer dan perdagangan.
Letak Kerajaan Singasari
hamzahzein.deviantart.com
Ken Arok mendirikan kerajaan Singasari pada tahun 1222 yang
diperkirakan berlokasi di Singasari Malang. Tepatnya di kawasan yang
bernama Kutaraja dan beribukota di Tumapel.
Silsilah Kerajaan Singasari
sejarah-negara.com
Ken Arok mendirikan keluarga kerajaan bernama Wangsa Rajasa yang
menjadi penguasa Singasari. Jika dilihat dari dua sumber yaitu kitab
Pararaton dan kitab Negarakertagama, terdapat perbedaan silsilah.
Silsilah yang disebutkan dalam kitab Pararaton, kesuksesan raja-raja
Singasari diperoleh melalui pertumpahan darah dan balas dendam.
Sedangkan dalam kitab Negarakertagama tidak menyebutkan adanya
pertumpahan darah antara raja pengganti dengan raja sebelumnya. Karena
kitab ini merupakan kitab pujian untuk Hayam Wuruk sehingga menutupi aib
leluhurnya. Berikut ini silsilah kerajaan Singasari dari generasi ke
generasi berikutnya:
a. Generasi Pertama
Pada generasi pertama ini terjadi pembunuhan Ken Arok terhadap
Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes (mantan istri Tunggu Ametung).
Dari pernikahannya dengan Ken Dedes, Ken Arok mempunyai empat orang
anak yaitu Mahisa Wongga Teleng, Panji Saprang, Agnibaya dan Dewi Rimba.
Ken Arok memiliki anak tiri dari pernikahan Ken Dedes dengan Tunggul
Ametung bernama Anusapati (Raja ke dua Singasari). Kemudian ken Arok
menikah lagi dengan Ken Umang dan memiliki 4 keturunan yaitu Panji
Tohjaya (Raja ke tiga Singasari), Sudhatu, wregda dan Dewi Rambi.
b. Generasi Kedua
Generasi kedua diwarnai dengan bergabungnya Anusapati yaitu anak tiri
Ken Arok dengan Mahisa Wongga Teleng anak kandung ken Arok dengan Ken
Dedes. Mereka bekerjasama memimpin Singasari. Anusapati memiliki anak
bernama Ranggawuni yang kelak membunuh Tohjaya dan menjadi Raja ke 4
Singasari.
Sedangkan Mahisa Wongga Teleng mempunyai dua anak bernama Mahisa
Cempaka dan Waning Hyung yang kelak menjadi permaisuri ke 4 Singasari.
c. Generasi Ketiga
Generasi ketiga ini terjadi persatuan darah Ken Arok dengan darah
Tunggul Ametung dalam diri Raja terbesar Singasari yaitu Kartanegara.
Kartanegara merupakan anak pertama dari hasil pernikahan Ranggawuni
dengan Waning Hyung.
Dari generasi ini pula cikal bakal Raja Majapahit. Sedangkan mahisa
Cempaka memiliki keturunan bernama Dyah lembu Tal yang bekerja sama
dengan Kertanagara membangun Singasari.
d. Generasi Keempat
Dyah lembu Tal menikah dengan putra mahkota kerajaan Padjajaran yaitu
Rakeyan Jayadarma. Dari pernikahan mereka, kelak lahirlah pendiri
sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit yang bernama Sangrama Wijaya.
Peninggalan Kerajaan Singasari
slideplayer.info
Ada beberapa peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain:
a. Candi Singasari
Candi ini terletak di Kecamatan Singasari Kabupaten Malang. Tepatnya
di di lembah antara pengunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Menurut Kitab
negarakertagama dan Prasasti Gajah Mada, candi ini dulunya digunakan
sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara.
b. Candi Jago
Candi jago berbentuk sperti teras punden berundak. Bagian atasnya
tersisa sebagian karena tersambar petir. Terdapat relief Kunjarakarna
dan Pancatantra di candi ini. Bahan candi ini keseluruhan berasal dari
batu andesit.
c. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan terletak 6 km dari Candi Singasari. Berada di dekat
telaga yang sangat bening airnya sehingga diberi nama Candi rawan.
Dulunya, candi ini digunakan oleh umat Budha dan berbentuk stupa.
d. Arca Dwarapala
Archa Dwarapala memiliki bentuk menyerupai monster dan memiliki
ukuran sangat besar. Dulunya, peninggalan kerajaan Singasari ini
merupakan pertanda masuk wilayah Kotaraja.. Hingga saat ini sayangnya
belum ditemukan dimana letak Kotaraja Singasari.
e. Prasasti Manjusri
Peninggalan Singasari yang satu ini dulunya ditempatkan di Candi
Jago. Namun sekarang sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Berbentuk manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Archa Manjusri
dan bertuliskan tahun 1343.
f. Prasasti Mula Malurung
Pada tahun 1975 ditemukan sepuluh lempeng prasasti Mula Malurung di
dekat Kota Kediri. Kemudian pada Mei 2001 ditemukan kembali tiga lempeng
di penjualan barang loak. Saat ini, semua lempeng disimpan di Museum
Nasional Indonesia, Jakarta.
Prasasti ini adalah pigam pengesahan penganugrahan dua Desa yaitu
Desa Mula dan Desa Malurung. Tokoh dari dua desa ini yaitu Pranaraja.
Diterbitkan oleh Raja Muda Kartanegara pada tahun 1255 atas perintah
ayahnya Wisnuwardana.
g. Prasasti Singasari
Prasasti ini bertuliskan aksara Jawa dan bertarikh tahun 1351.
Ditemukan di Singasari Malang dan sekarang disimpan di Museum Gajah.
Prasasti ini dulunya dibuat untuk mengenang pembangunan candi pemakaman
yang dilaksanakan oleh Gajah Mada.
h. Candi Jawi
Berlokasi di pertengahan jalan raya Kecamatan Pandaan, Prigen dan
Pringebukan, candi ini dulunya merupakan tempat penyimpanan abu Raja
Kartanegara. Sebagian abu juga disimpan di Candi Singasari.
i. Prasasti Wurare
Prasasti Wurare digunakan sebagai bentuk penghormatan dan perlambang
Raja Kertanagara yang dianggap telah mencapai derajat Jina atau Buddha
Agung. Tulisan prasastinya melingkar pada bagian bawahnya dan berbahasa
Sansekerta. Bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, prasasti ini
isinya memperingati penobatan arca Mahaksbya di tempat yang bernama
Wurare.
j. Candi Kidal
Candi ini merupakan salah satu candi peninggalan Singasari yang
dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Anusapati. Raja kedua dari
Singasari ini telah memerintah selama 20 tahun dan meninggal karena
dibunuh oleh Tohjaya.
k. Candi Songgoriti
Nama candi ini sebenarnya Candi Supo karena dibangun oleh Mpu Supo.
Candi ini merupakan tempat pertemuan Ken Arok dengan Ken Dedes.
Berlokasi di sebelah utara lereng Gunung Kawi dan bagian selatan Gunung
Arjuna.
Letak Geografis
Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena
adanya di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan
Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu. Sejarah Terbentuknya Kerajaan Majapahit
Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas
menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru
dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia
melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan
mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya.
Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia
dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke
Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya ia
berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden
Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke
Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan
menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk
bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh,
tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula
dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol,
sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka
tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa
Jayawardhana.
Gapura Bajang Ratu, yang diperkirakan sebagai Gerbang memasuki Kompleks Keraton Majapahit (Photo credit: Wikipedia)
Raja-raja Majapahit Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya,
Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis
berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya
diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang,
Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana.
Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan
Kerajaan Singasari.
Raden
Wijaya (Kertarajasa Jayawardana), yang digambarkan sebagai Harihara,
Perwujudan Dewa Wisnu dan Dewa Syiwa, ditemukan di Candi Simping (Photo
credit: Wikipedia)
Raja Jayanegara (1309-1328)
Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri
Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan
pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231
saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235
saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem,
Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah
pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit.
Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya
sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada. Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)
Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh
karena itu yang seharusnya menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia
telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre
Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya
yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang
dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini
berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih
Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan
Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan
kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu
oleh Mpu Nala dan Adityawarman.
Patung Kepala yang dipercaya sebagai gambaran sosok Gajah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit(Photo credit: Wikipedia)
Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum
wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa,
adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah
nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring
Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Kemudian
Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan. Hayam Wuruk
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan
bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi
oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab
Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia
yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke
negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada
kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah
kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri
Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka)
serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di
Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau
perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia
menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai
upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya
perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri
Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan
seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk memilih penggantinya bukan
suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali
mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan
bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada tidak akan diganti “untuk mengisi
kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu Tandi sebagais
Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami
sebagai Yuamentri. Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389. Wikramawardhana
Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya
bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang
menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk
dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka
ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih
diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu
daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan
Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg.
Wikramawardhana meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja
berikutnya berturut-turut adalah Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana,
Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan
kekuasaan. Sumber Sejarah
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden
Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat
peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya
untuk mendirikan kerajaan
Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini
menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan
tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
Lambang Kerajaan Majapahit, Surya Majapahit
Kehidupan Politik
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan
kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa dan
Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 – 1381, Majapahit telah
beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui
dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai
politikus-politikus yang handal. Hal ini dibuktikan oleh Raden Wiajaya,
Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan kerajaan
besar, tangguh dan berwibawa.
Wilayah Majapahit (Photo credit: Wikipedia)
Struktur pemerintahan di pusat pemerintahan Majapahit :
1. Raja
2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini
a. Mahamantri i-hino
b. Mahamantri i –hulu
c. Mahamantri i-sirikan
4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiran
a. Rakryan Mahapatih (Panglima/Hamangkubhumi)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
5. Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, masing-masing dharmadyaka
dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Upapat. Pada masa
hayam Wuruk ada 7 Upapati.
Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan dibawah raja ada
sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang masing-masing memerintah
suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil
maupun militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa
sistem pemerintahan dan kehidupan politik kerjaan Majapahit sudah sangat
teratur. Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat
mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan).
Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan yang
menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading,
timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting.
Sebagai kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas
dengan kondisi tanah yang sangat subur. Dengan daerah subur itu maka
kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai Kerajaan Perantara – Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi
dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya. Keadaan masyarakat yang
teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu.
bukti-bukti perkembangan kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat
diketahui melalui peninggalan-peninggalan berikut ini :
Candi : Antara lain candi Penataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan candi Tikus (Trowulan).
Sastra : Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi:
Sastra Zaman Majapahit Awal
Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
Kitab Kunjarakarna
Kitab Parhayajna
Sastra Zaman Majapahit Akhir
Hasil sastra zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah,
diantaranya ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan yang
ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara
lain :
Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah
Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan
penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.
Selain kitab-kitab tersebut masih ada lagi kitab sastra yang penting
pada zaman Majapahit akhir seperti Kitab Paman Cangah, Tantu Pagelaran,
Calon Arang, Korawasrama, Babhulisah, Tantri Kamandaka dan Pancatantra. Keruntuhan Majapahit
Perkembangan kerajaan Majapahit yang mencapai puncaknya pada abad
ke-14, akhirnya mulai mengalami proses kemunduran setelah Gajah Mada
meninggal pada tahun 1364, kemudian disusul meninggalnya Hayam Wuruk
pada tahun 1389. Kewibawaan kerajaan Majapahit mulai menurun, karena
sistem sentralisasi yang ditetapkan oleh Gajah Mada selama memangku
mahapati. Akibatnya daerah-daerah bawahan banyak yang memisahkan diri,
seperti Minangkabau, Tanjungpura, dan berbagai kerajaan kecil lainnya.
Muhammad Yamin dalam buku Tatanegara Majapahit melukiskan:
“Tidak berapa lamanya sesudah Prabu Hayam Wuruk meninggal, maka
mulailah negara Majapahit memperlihatkan tanda-tanda kemundurannya yang
berjalan terus sampai permulaan abad ke-16, inilah zaman runtuhnya
negara Majapahit yang akan berakhir dengan habis musnahnya atau hilang
tenggelamnya kerajaan itu sebagai susunan politik.
Situasi dan kondisi Majapahit semakin tidak menentu setelah
meninggalnya kedua tokoh tersebut. Kekacauan di istana timbul sebagai
akibat pertentangan di kalangan kerabat istana dalam usaha merebut tahta
pemerintahan. Hal ini nampak pada masa pemerintahan Wikramawardhana
dengan Bre Wirabumi, yang memuncak dengan pecahnya perang Paregreg tahun
1401.
Pertentangan dalam kerabat istana tersebut, menyebabkan lemahnya
pemerintahan pusat kerajaan Majapahit, sehingga pengawasan terhadap
daerah-daerah bawahan berkurang. Majapahit mengalami proses
disintegrasi. Situasi-situasi inilah yang melemahkan kerajaan Majapahit
yang pada akhirnya membawa kepada keruntuhannya. Menurut N.J. Krom:
“Bahwa keruntuhan didahului oleh melemahnya pusat pemerintahan dan
pelemahan ini tidak disebabkan terutama sekali oleh pertentangan agama
Hindu yang sedang turun dan agama Islam yang sedang naik, melainkan
semata-mata oleh pertentangan dalam negeri yang berupa perang saudara
dan perpecahan kekuasaan.”2)
Di samping itu sistem sentralisasi yang diterapkan oleh Gajah Mada
semasa kepatihannya, tidak dapat lagi dilakukan karena tidak adanya
kaderisasi. Perkembangan selanjutnya, setelah pemerintahan
Wikramawardana, pertentangan dalam pemerintahan Majapahit semakin
meningkat. Namun tercatat beberapa penguasa di Majapahit.
Ratu Suhita (1429-1447)
Raja Wijayaparakramawardhana (1447-1451)
Raja RAjaswawardhana (1451-1453)
Ada selang tiga tahun tidak ada raja yang memerintah, yang mungkin disebabkan oleh krisis pergantian raja ….
Masa pemerintahan dua orang raja lagi dapat diketahui, yakni:
Girisawardhana (1456-1466) dan Singhawikramawardhana (1446-1478).3)
Singhawikramawardhana dianggap sebagai raja terakhir kerajaan
Majapahit. Tahun 1478 sering dijadikan sebagai patokan keruntuhan
Majapahit. Para ahli sejarah masih memperdebatkan tentang keruntuhan
Majapahit, sebab ada yang menyebutkan bahwa keruntuhannya sekitar tahun
1518-1521.4) Menurutnya setelah Majapahit ditaklukkan oleh Demak.
Sementara itu Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun sang merah putih,
memperkirakan keruntuhan Majapahit sekitar tahun 1525.5)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab runtuhnya Majapahit adalah:
a. Tidak ada pemimpin yang cakap sepeninggal Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada
b. Lemahnya pemerintahan pusat akibat pertentangan antara kerabat istana
c. Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg)
d. Ekspansi Kerajaan Demak
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggrisnation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia
yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan
kepentingan nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan
negaranya, baik dari internal maupun eksternal.
Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy).
Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat
liberalisme yang menanggap kebenaran politik adalah bersumber dari
kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.
Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola
pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup
bersama dalam suatu wilayah
tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan
diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan
negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal
bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah.
Ikatan ini pun tampak pula dalam dunia hewan
saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan
suatu negeri. Namun, bila suasananya aman dari serangan musuh dan musuh
itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti naziisme, pengasingan dan sebagainya.
Beberapa bentuk dari nasionalisme
Nasionalisme
dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan
(bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara, etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua elemen tersebut.
Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil)
adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik
dari penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan
politik". Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudul Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai Kontrak Sosial").
Nasionalisme etnis
adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik
dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat").
Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis di mana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme.
Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis
yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk
konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang
dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan
dengan etnis Jerman.
Nasionalisme Budaya
adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik
dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.
Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan,
selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik
adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan
kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik
dengan prinsip masyarakat demokrasi.
Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang
ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri.
Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap 'Jacobin' terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika.
Secara sistematis, bilamana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan
wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap
wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap
nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica.
Nasionalisme agama
ialah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh legitimasi politik
dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis
adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu.
Namun, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan
simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi
semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut
paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.